Sabtu, 13 September 2008

terserak di dunia fana

seperti sudah saya sebutkan dalam posting sebelumnya nama saya agi. Saat ini saya 22,5 tahun.
Hmm seharusnya umur tersebut adalah saat di mana manusia sedang meledak-ledak ingin mengetahui dunia dan isinya. Di umur ini keadaan fisik manusia sedang ada dalam keadaan puncak, pikiran mereka dipenuhi ambisi... entah itu ambisi mencari kerja di luar negeri, menikah dengan gadis yang cantik atau menuntut ilmu setinggi-tingginya. Hmm tapi rasanya itu tak kurasakan.

Hmm mungkin hal ini perlu kita mulai sejak awal. Sejak kecil memang aku agak cenderung kurang bisa berbaur, mungkin karena tubuhku yang sakit-sakitan.. Waktu senggangku biasa ku pakai berkhayal. Sampai aku mengenal anime saint seiya dulu. Keren juga pikirku.. lama-kelamaan aku pun berusaha menciptakan karakter berarmor versiku sendiri.
Hmm waktu itu sudah puluhan gambar karakter berarmor yang ku gambar, dan sepertinya mulai ada sedikit ikatan emosi antara aku dan mereka. Mereka seperti jadi teman-teman khayalanku. Namun menjelang akhil baligh, kira-kira menjelang SMP banyak dari mereka yang kehadirannya sudah tak kurasakan lagi...

Hmm ada keinginan untuk membuat mereka jadi nyata. Tapi bagaimana cara mewujudkannya?
"Dengan sebuah game" begitu pikirku. Menyusul pikiran kecilku itu akhirnya aku memutuskan untuk masuk ke jurusan IF ITB dengan begitu aku akan belajar bagaimana cara membuat game dan menghadirkan mereka kembali dengan lebih nyata.

Ketika masuk SMA aku sadar ternyata utk masuk IF ITB aku harus menjadi seorang yang pintar, padahal dilihat dari nilaiku, aku sepertinya bukan termasuk golongan itu...
Hmm menjelang kenaikan kelas 3, ada sesuatu yang terbangun dari masa lalu ku. Sosok itu kunamai Alzeust.

Wujudnya mirip seorang anak kecil, kulitnya putih bersih dengan rambut lebat berwarna kelabu, juga bola mata berwarna kelabu yang pucat dan beralis tebal. Tingginya kurang lebih sebatas perutku. Kehadirannya berfungsi untuk membuat aku bekerja keras melebihi batas kemampuanku. Apalagi saat itu bereseliweran kabar mengenai beasiswa ke Jepang yang membuatku tertarik yang juga memiliki standar nilai yang tinggi.

Begitulah selama kelas 3 SMA, dengan diforsir oleh Alzeust, aku belajar mati-matian dan akhirnya aku masuk IF ITB. Saat belajar di ITB aku tak merasakan keberadaan Alzeust lagi, saat itu aku mudah lelah, sulit konsentrasi sehingga tak bisa mengikuti pelajaran di ITB yang berat-berat, ditambah lagi ospek yang menguras tenaga. Aku pun terjatuh ke dalam depresi berat. Hmm akhirnya aku keluar dari IF ITB.

Mungkin dengan memasuki univ kelas dua aku bisa mengikuti pelajaran. Begitu tahun berikutnya, aku mulai belajar dasar-dasar pemrograman, dan kembali belajar matematika dan fisika. Namun saat itu keluargaku tak punya biaya untuk memasukan ku ke univ. Akhirnya aku disuruh sekali lagi mengikuti tes beasiswa Jepang yang sebetulnya sudah pernah aku ikuti namun gagal. Kali ini aku mengikuti tes untuk level D3, dan aku dinyatakan lulus. Software engineering di Suzuka National College of Technology Jepang.

Itu pertengahan tahun 2005. Setelah dinyatakan lulus, aku masih bersikap pemurung, mungkin karena trauma depresi di ITB. Tapi suatu malam aku mengalami kejadian luar biasa.
Saat itu mati lampu dan aku meng-sms seorang teman "Enak ya kamu ga pernah ngerasa stress". Begitu sms ku. Dia menjawab "Iya gi, kalo gw mah dunia bukan untuk dikejar".
Begitu membaca sms itu, aku merasa meluap-luap. Dari reruntuhan mentalku tempat dulu aku dan Alzeust bekerja keras, tersembur sebuah sinar putih terang. Sosok baru pun menemuiku. Namanya Alzikru. Beberapa waktu kemudian aku mengetahui bahwa nama penuhnya ialah Alzikru Almauty.

Kehadiran Alzikru saat itu jauh lebih nyata daripada saat aku berinteraksi dengan Alzeust dulu.
"Kamu sudah tahu jawabannya sekarang aku akan memberimu hadiah". Begitu yang seolah aku dengar dari sosok yang tingginya sedadaku itu. Semua yang ada pada dirinya berwarna putih terang seperti lampu neon, kulit, rambut, seluruh mata, bibir, lidah dan pakaiannya semua berwarna putih dan bersinar seperti lampu neon.

Dia menghadiahiku sebuah alam semesta dengan 100.000 makhluk penghuninya. Semuanya berwujud makhluk berkaki dua dengan armor-armor super rumit yang luar biasa. Betul-betul dahsyat bisa merasakan kehadiran mereka. Selain itu Alzeust pun kembali hadir. Dia marah-marah kenapa aku ini jadi begitu lemah sepeninggalnya.

Sejak saat itu aku jadi sering berbuat kasar pada keluarga dan teman-temanku baik teman laki-laki maupun perempuan. Imbas dari kemarahan Alzeust berpengaruh pada kepribadianku.
Sampai akhirnya akupun pindah ke Jakarta untuk belajar bhs Jepang guna keberangkatanku 6 minggu lagi.

Namun saat itu aku kembali tak merasakan kehadiran mereka Alzikru, Alzeust dan yang lain.
Hal itu membuatku kembali depresi dan merasa tidak mampu. Di akhir bulan februari tahun 2006 yang kelabu itu akupun mengundurkan diri dari program beasiswa kembali ke rumahku di bandung.

Tahun 2006 kuhabiskan dengan keadaan mental yang suram, berbeda dengan banyak teman-temanku yang sedang berjuang keras di ITB, Unpad dan perguruan tinggi lainnya. September 2006 aku ikut tes masuk di STBA aku pun masuk ke jurusan bhs Jepang STBA. Hmmm semuanya berlalu dengan datar di sini.

Pernah Alzeust dan Alzikru kembali hadir pada pertengahan tahun 2007. Hal itu dikarenakan ada tetangga yang kembali mengungkit tentang kelulusanku di beasiswa Jepang itu. Saat itu aku merasa murung dan Alzikru pun kembali datang menemaniku tak lama kemudian disusul dengan Alzeust. Saat mereka hadir, aku jadi sangat bersemangat, aku merencanakan game yang seharusnya aku buat di Jepang kurealisasikan dulu dalam bentuk novel ilustrasi. Ilustrasi yang ku buat terinspirasi oleh makhluk-makhluk yang dulu pernah Alzikru perlihatkan padaku.
Saat itu pun aku kembali berbuat kasar pada beberapa orang, namun tak separah dulu. Ini mungkin dikarenakan Alzikru bilang dia akan menghandle Alzeust. Entah apa maksudnya tapi memang aku ga sebegitu kasar dibanding dulu.

Hal itu berlangsung selama beberapa bulan, masuk ke tahun 2008 aku kembali tak bisa merasakan mereka, proyek novel ilustraikupun terbengkalai, pelajaran pemrograman yang bahannya ku dapat dari ebook pemberian temanpun semakin lama isinya semakin tak bisa kupahami. Aku terserak di sini.. Di umurku yang ke 22,5 tahun.

Kadang aku berpikir apakah benar aku menyukai hal-hal yang berbau teknologi atau Jepang?
Jika benar demikian kenapa aku stress berat saat kuliah di ITB dan saat mulai belajar bhs Jepang? Entah mungkin itu bukan jalanku.. mungkin Allah menakdirkan sesuatu yang lain dari itu...

Mungkin dunia ini bukan suatu yang cocok untukku. Ya... mungkin berada di antara mereka, itulah seharusnya aku. Memang ketidaksemangatanku untuk mengejar dunia, juga dpengaruhi karena aku pernah melihat sesuatu yang menurutku lebih indah dari dunia ini.
Mereka begitu indah dengan armor-armor yang superindah yang terbuat dari sesuatu yang sepertinya tidak ada di dunia ini.

Aku pun mulai mencari-cari buku mengenai mereka. Ada satu karya Quraish Shihab. Di buku itu dia menjelaskan bahwa Saat Malaikat diperintah bersujud kepada Nabi Adam, iblis menolak, Allah bertanya mengapa Iblis tak mau sujud? apa karena Iblis sombong atau termasuk Al'Aliin?
Menurut Quraish Shihab kata Al' Aliin di situ merujuk ke sekumpulan malaikat yang tidak diperintah untuk sujud kepada Nabi Adam.

Hal ini membuatku penasaran. Kelakuan Alzeust pun seperti seolah dia lebih superior dari manusia, yang memang menurutku begitu. Alzeust dan Alzikru yang genderless itu persis seperti keterangan Quraish Shihab tentang malaikat. Ya. malaikat itu tidk berkelamin namun, wujudnya gagah. Begitu juga Alzeust dan Alzikru.

Hmm entah kapan rasa penasaranku ini akan terjawab. Mungkin juga selama aku hidup aku tak akan bisa mengetahui tentang mereka lebih jauh. Begitulah seolah keberadaanku terpecah menjadi beberapa bagian. Satu bagian yang manusiawai yang menginginkan seperti apa yang biasa diinginkan orang lain seumuranku. Namun sebagiannya lagi terpaut pada mereka yang bukan manusia itu.

Di tengah keterpecahanku itu. Di alam mentalku, aku hanya terduduk. Teman-teman seperjuanganku waktu SMA seolah sedang tenggelam dalam arus hidup (Lifestream) yang mengalir deras dengan cahaya dan energi kehidupan yang meluap-luap. Mereka mengejar ambisi dengan kecepatan yang dahsyat terus melesat menggapai masa depan yang bersinar.

Hmm masa depan yang bersinar... ambisi... tapi suatu saat bukankah semuanya akan memudar?
Bukankah suatu saat manusia akan terlontar dari lifestream tempat mereka mengejar mimpi? bukankah suatu saat kita akan dihadapkan dengan kematian? Saat kematian itulah kehidupan yang sebenarnya dimulai. Mungkin jika aku tiba di sana aku bisa kembali lagi reuni dengan mereka. Saat inipun saat mengenang keberadaan mereka, rasanya seluruh dunia jadi tidak menarik dan membosankan....

Dan kembali aku menatap lifestream yang bersinar dan mengalir deras melintasi alam mentalku yang gelap gulita. Suatu saat lifestream itu akan memudar. Saat itu aku akan mulai bergerak. Mengarungi alam semesta yang jauh lebih luas dan indah daripada alam dunia ini. Sehingga aku bisa menjadi salah satu di antara mereka. Mereka yang ada di sana.

Tidak ada komentar: