Di bulan Ramadhan ini, ada baiknya saya berhenti sejenak untuk sekedar menengok ke belakang dan menata ulang diri saya. Saat itu pada awal tahun 2005, saya telah berlepas diri dari suatu peran yang biasanya diemban oleh orang lain seusiaku dengan penuh antusiasme. Namun saat itu, saya merasa tak bisa memikul peran itu… karena peran itu terlalu berat… dan karena peran itu rasanya terlalu melenceng dari sifat dasarku. Akhirnya saya memilih untuk mengundurkan diri dari tanggung jawab dan kebahagiaan yang didapat dari peran tersebut.
Saat itu malam hari menjelang Isya.. di suatu waktu di awal tahun 2005… Saat itu saya sedang mengikuti sebuah les bahasa Jepang di daerah Dago. Kebanyakan teman-teman les saya adalah mahasiswa-mahasiswi ITB yang tentunya memiliki minat untuk mempelajari bahasa Jepang. Suasana belajarnya sama sekali tidak kaku. Mereka semua, baik teman maupun guru, sangat ramah terhadap saya. Karena sebelum les, saya sudah mempelajari huruf katakana/hiragana, maka Allhamdulillah sayapun bisa mengikuti pelajaran dengan cukup lancar. Hari itu akhirnya pelajaran bahasa Jepang berakhir. Waktu itu sekitar Isya dan hujan turun rintik-rintik. Saya biasa membonceng teman saya. Seorang mahassiswa UPI yang rumahnya berlokasi di Jalan Turangga. Karena searah, maka saya biasa ditawari untuk membonceng motornya. Seperti biasa, kami memasuki daerah Dago. Malam itu terasa dingin, lampu-lampu dan nuansa Dago, menerangi malam dengan lembutnya. Suatu kawasan yang betul-betul cocok dengan jiwa seseorang yang sebayaku waktu itu. Namun saat itu, walau saya bisa menikmati perjalanan pulang melewati kawasan Dago, namun saya sepertinya tak benar-benar berbaur dengan cahaya dan arus hidup yang ramah khas Dago. Saya seolah terpisah dari denyut Lifestream kota tempatku tinggal.
Memasuki persimpangan Jalan Sumatera dan Jalan Veteran, hujan pun menjadi semakin lebat. Teman saya memutuskan untuk berteduh dulu di emper sebuah bangunan di seberang Pizza Hut, di jalan Veteran. Sebetulnya, saya tak keberatan jika harus hujan-hujanan sampai ke rumah. Kalaupun kena demam, tak ada kelas yang harus kuhadiri keesokan paginya, begitu pikirku, namun Saya tak bisa memaksa temanku itu untuk terus mengendarai motor sambil hujan-hujanan di malam hari. Sayapun ikut berteduh.
Hujan yang deras namun lembut mengguyur jalan Veteran di malam hari. Cahaya dari lampu mobil dan motor pun mengalir di depanku. Seolah merefleksikan energi kehidupan orang-orang yang berada di dalam kendaraan tersebut, lampu dan cahaya itu terus mengalir di depanku. Lifestream terus mengalir di depan mataku.. meninggalkanku yang tidak mengalir ini. Di seberang jalan, ku tatap gedung Pizza Hut yang terang dan menarik. Pasti berteduh di dalamnya akan lebih nyaman, terang, dan tentunya akan disuguhi makanan-makanan hangat yang lezat. Namun saat itu keadaan memaksaku dan temanku untuk duduk di emper di seberang Pizza Hut. Menunggu hujan.
Saat itu aku merenung dan berusaha mencerna banyak hal mengenai hidupku. Tiap manusia memiliki tujuan dan energi hidup. Energi yang tetap mengalir walau pada malam yang diguyur hujan seperti itu. Lampu-lampu kendaraan dan bangunan kota itulah yang seolah melambangkan denyut Lifestream manusia yang terus melaju menatap masa depan. Namun di saat itu aku tak mengalir. Aku sendirian dan tidak mengalir.
Kupalingkan wajahku ke kanan, dan kulihat temanku itu sedang sms-an dengan seseorang. Layar HPnya menyala. Aku merasa bahwa dia sedang menikmati dirinya yang tengah mengalir bersama Lifestream. Melihatnya seolah aku dipisahkan oleh beberapa lempeng transparan yang membuatku merasa terkucil dari keberadaan temanku itu, padahal jarak dudukku dan dia kurang dari 1 meter. Tapi ada perbedaan besar anatara kami. Dia mengalir… dan aku tidak.
Kupalingkan wajahku ke kiri, dan kulihat seorang gelandangan sedang tertidur. Dia tertidur pulas tanpa memperhatikan aliran Lifestream maupun derasnya hujan. Entah dia mengalir atau tidak, namun rasanya ada sedikit kesamaan antara aku dan pengemis itu. Entah dimana persamaannya, namun aku merasa sama saja dengan pengemis itu.
Hujan terus menerpa jalan Veteran. Lampu lalu lintas berganti.. Kadang merah, kadang kuning, dan tentu saja, warna hijau yang menenangkan hati juga kadang terpancar lembut dari celah-celah penutup lampu lalu lintas yang terguyur hujan sepenuhnya. Warna hijau itu begitu lembut, mengalirkan lampu-lampu mobil yang tadinya tertahan, mengalirkan denyut hidup ke depan, dan membuat harmoni Lifestream terasa tertata teduh dan sejuk. Suasana lembut dan sejuk tanpa beban itu perlahan-lahan meresap ke dalam jiwaku yang rapuh dan terpecah belah.
Impian dan keegoisan masa kecil, harapan di masa depan, dan energi yang biasanya orang-orang sebayaku saat itu miliki dengan jumlah yang meluap-luap, seolah terpecah dan padam dalam jiwaku. Di saat itu, Lifestream mengalir melewatiku begitu saja. Dan saat Lampu hijau berpendar, pola alir Lifestream itu berganti. Pecahan-pecahan jiwaku pun terlihat berserakan dalam keberadaanku, semuanya terlihat redup diterangi cahaya hijau yang lembut.
Waktu mengalir… sepanjang tahun 2005 saya mendapat banyak pelajaran, pengalaman dan teman-teman baru. Di sepanjang tahun itu pun saya dipenuhi ambisi, amarah dan kebencian, dan juga sifat kekanak-kanakan yang egois.
Sekitar satu tahun setelah itu, pada sekitar Maret atau April 2006, aku kembali berada dalam keadaan yang sama. Terlepas dari Lifestream. Saat itu malam hari di dekat perempatan Dago dan Riau, di sebuah kios Nasi Goreng Kambing. Sambil menunggu, saya berbincang-bincang dengan seorang paruh baya. Dia menanyakan pekerjaanku, dan ku jawab dengan jujur kalau aku seorang pengangguran. Hal yang luar biasa dari alur percakapan kami selanjutnya adalah bahwa orang paruh baya itu masih penuh dengan semangat hidup. Dia menasihatiku cara memulai bisnis sederhana yang bisa dilakukan tanpa harus menempuh jenjang pendidikan yang tinggi. Dalam hati, aku sangatlah segan untuk mau menuruti nasihatnya, namun aku kagum dengan caranya menyampaikan nasihat, walau lembut, tapi penuh dengan energi.
Kembali lagi waktu mengalir. Sejak saat bertemu kakek itu, aku melewati awal dan tengah tahun 2006 dengan keadaan yang monokrom. Tanpa variasi dan warna. Terkadang, ada seorang teman SMP yang mau mentraktirku makan di KFC Riau, dia betul-betul baik. Saat itu, dia sedang menjalani kehidupannya sebagai mahasiswa tingkat 2, dan sampai saat post ini ditulispun Allhamdulillah saya masih bisa terus berdiskusi dan bersilaturahiim dengan teman saya itu.
Waktu pun mengalir…bersama Lifestream sang waktu terus mengalir…
Dibandingkan teman-teman masa kecil dan masa mudaku, saya bukanlah seseorang yang bisa menyamai kesuksesan mereka sekarang. Mereka telah melesat ke berbagai penjuru dunia.. Ada yang di Eropa daratan, Jepang, Cina, Taiwan, Inggris, Malaysia, Korea, Amerika Serikat, Kanada, India, Timur Tengah dll. Saya sama sekali bukan tandingan mereka, saya ada jauh di bawah mereka. Namun walaupun tidak sederas arus LifeStream… saya sedikit mengalir …
Tak apa… sudah baik-baik saja kan sekarang?
Allhamdulillah ^^
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar