Kembali kucoba menulis sesuatu. Sebelum ini, aku sempat menulis beberapa tulisan, namun tak sempat ku upload baik ke blog ini maupun ke facebook. Lagipula beberapa waktu lalu aku ganti OS, jadi tulisan-tulisan tadi yang ku simpan di drive C itu juga ikut terhapus. Saat keinginan menulis ditambal dengan keinginan menguploadnya ke blog ini, nuansa yang hampir serupa acapkali ku rasakan. Nuansa itu seolah mengaburkanku dari kenyataan dan menempatkanku di satu titik.
Setelah menyelesaikan paragraf di atas dan sebelum memulai paragraf ini, aku membuka blogku, kulihat postingan yang dahulu. Terlihat alur kata yang memberi nuansa yang sama seperti kurasakan sekarang. Nuansa terpisah dari kenyataan. Nuansa yang kurasakan ini membuat diriku merasa hampir seperti 5 tahunan lalu. Namun tentu saja kali ini aku 5 tahun lebih tua. Sampai saat ini sepertinya aku belum bisa memahami dan menyikapi kenyataan dengan aliran yang seharusnya.
Selama satu tahun ini aku mencoba mengalir sebisaku, dengan apa yang Allah titipkan padaku. Tak ada atau belum ada sesuatu yang luar biasa yang bisa kukemukakan disini, namun saat aku berada dalam keadaan seperti sekarang kembali retakan-retakan yang pernah berserakan di kepalaku bisa kurasakan keberadaannya.
Samar dan rapuh.
Ada kalanya kupandangi sekilas beberapa sosok manusia yang kulihat baik di dunia nyata maupun lewat televisi. Mereka berada di satu keadaan yang mana jika aku diposisikan dalam keadaan seperti itu pasti aku sudah jadi sesuatu yang kacau balau. Di lain pihak mereka yang berada di puncak dunia terus saja melaju dengan kencangnya membuat jarak diriku dan superioritas di dunia semakin melebar. Apakah ini artinya aku mengidap inferiority complex? Aku tak tahu. Kadang aku kebingungan menempatkan diriku pada definisi yang bisa dibiaskan seperti itu.
Aliran waktu membuatku memahami kalau aku mungkin saja hanya keberadaan yang tak sanggup berperan besar dalam kehidupan ini. Dan semakin lama aku semakin toleran akan hal itu, walau akupun berusaha untuk melakukan sesuatu.
Di titik ini aku kembali mencoba merenung. Sistem mentalku yang tertatih-tatih dalam menjalani keberadaannya kembali mengubah kenyataan dan dunia bagai aliran cahaya yang menembusi diriku untuk kemudian meninggalkanku di satu sudut. Sudut yang temaram, sudut yang ketemaramannya meresap sampai ke persendianku.
Dengan ketemaraman mental itu akupun kembali memandangi semuanya. Biasan subjektifitas terasa berpijak di satu posisi di sudut pandangku di mana aku tak bisa mengklarifikasikannya. Keakuan yang mengurat akar, ketidakpedulian yang mencangkangi ketidakpuasan. Semuanya keluar masuk dari dan ke dalam suatu poros dalam diriku yang tidak tegar.
Kembali aku berada di sebuah posisi yang familiar. Suatu atmosfer yang tidak asing, Suatu atmosfer tempat aku melepaskan diri dari banyak hal, membiarkan diriku dilucuti dari tanggung jawab alami yang sewajarnya melekat pada satu sosok manusia.
Entah kenyataan atau waktu yang akan menghentikan aliranku. Hal yang pasti ialah suatu saat nanti aku akan berpisah dari dunia ini. Sampai saat itu tiba, aku hanya bisa menjalani apa yang bisa kujalani. Tertatih, terjatuh, merangkak, terhenti dan mencoba merangkak lagi. Sampai tiba saatnya aku tak perlu melakukan hal-hal seperti itu lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar